sepi yang tak pernah pulang

April 28, 2007

tiap jengkal ruas jalanan kota ini adalah celah untuknya menyembunyikan muka.  sebab ia telah menghapuskan seluruh tempat dari peta perjalanannya. setelah dalam hitungan tahun tersaruk-saruk batuan dan debu jalanan yang menimpuki pori-pori tubuhnya.

pulang…rumah…adalah tempat yang tak pernah diberi ruang bahkan dalam keinginan. ketika kesendirian telah melepasnya, maka tak akan ada bingar yang mampu menjeratnya kembali. karena kebebasan tak pernah diikat dengan sepi tapi bingar yang hangat.

entah apa yang menghidupi kekukuhan egonya, bertahan dengan ceracah perih. hidup semakin rapuh dan senyuman cuma tercipta dengan lamunan. tapi ada sebuah kebusukan besar. semua manusia menyimpannya, kecuali yang mengingkari kemanusiaannya dengan mengenakan jubah malaikat sekedar menambal nganga borok di lekukan kulit. diapun menyimpan kebusukan itu, terlebih karena dia jujur.

carut-marut kota, kelokan gang-gang kecil, parit di tiap halaman rumah, ia begitu mengenalnya. layaknya keriput di kulit yang mengiyakan hitungan tahun, air mata yang leleh entah karena debu jalanan atau tikaman perasaan yang belum tahu hendak dinamai apa.

dia berani menderita. aku juga belum berani melabelinya dengan kata. jagoan ataukah pecundang bodoh dia?

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.