tiap jengkal ruas jalanan kota ini adalah celah untuknya menyembunyikan muka. sebab ia telah menghapuskan seluruh tempat dari peta perjalanannya. setelah dalam hitungan tahun tersaruk-saruk batuan dan debu jalanan yang menimpuki pori-pori tubuhnya.
pulang…rumah…adalah tempat yang tak pernah diberi ruang bahkan dalam keinginan. ketika kesendirian telah melepasnya, maka tak akan ada bingar yang mampu menjeratnya kembali. karena kebebasan tak pernah diikat dengan sepi tapi bingar yang hangat.
entah apa yang menghidupi kekukuhan egonya, bertahan dengan ceracah perih. hidup semakin rapuh dan senyuman cuma tercipta dengan lamunan. tapi ada sebuah kebusukan besar. semua manusia menyimpannya, kecuali yang mengingkari kemanusiaannya dengan mengenakan jubah malaikat sekedar menambal nganga borok di lekukan kulit. diapun menyimpan kebusukan itu, terlebih karena dia jujur.
carut-marut kota, kelokan gang-gang kecil, parit di tiap halaman rumah, ia begitu mengenalnya. layaknya keriput di kulit yang mengiyakan hitungan tahun, air mata yang leleh entah karena debu jalanan atau tikaman perasaan yang belum tahu hendak dinamai apa.
dia berani menderita. aku juga belum berani melabelinya dengan kata. jagoan ataukah pecundang bodoh dia?