hilang

Juni 2, 2007

apa yang membuat kita jatuh?

pada malam-malam panjang yang kita peram dibawah ranjang tidur, di kastil tua yang meninabobokan dengan udara sebeku percakapan kita. aku menunggu waktu memberikan jarak dan merasai bagaimana rasanya kehilangan. mungkin dengan begitu, kita baru benar-benar tahu bagaimana cara menjaga dan menghargai yang kita punyai.


Mei 1, 2007

seorang sahabat baru tiba-tiba saja hilang.

pagi tadi, matahari belum kuizinkan menerobos kios “banyu biru”.  gedoran di pintu menyilet telinga. gagap suara lelaki itu menyuarakan kedukaannya, seorang sahabat meninggal semalam!

menghabiskan sebotol cooler dan sebotol lagi minuman aneh yang cukup mencekik leher bersama seorang kawan, kesadaranku baru hinggap separuh. menelaah suara gagapnya, tentu saja butuh beberapa waktu.

tapi aku rasa izroil tak gagap ketika mencabut nyawa sahabat baru itu. mungkin dalam alam pikirnya yang sedang dipengaruhi alkohol, sahabat baru itu menghampiri izroil seperti menemui kekasihnya di sabtu sore. atau malah sebaliknya? entahlah.

aku cuma menemukan jasad yang terbujur kaku sedang diotopsi dokter. sisa-sisa air mata yang mengering di pipi kelurganya. ah…

damailah engkau sahabat baru. aku tak yakin di surga malaikat menyediakan minuman membukkan, jadi tanyakan saja pada ridwan. kalau ada kau masih bisa meneruskan mabukmu. kalaupun stok alkohol disurga kikis, rasanya kaupun tak akan menuai sesal, toh kau menuju pintunya dengan aroma alkohol menguar di mulutmu.

tulus aku berdo’a : semoga damai kau di dunia yang terpisah sana. amin!


April 29, 2007

semacam teka-teki yang terus melingkupi dan mengungkung kita.

hari ini, esok, kemarin…

aku tertidur di halaman rumahmu. angin dini hari mengusap-usap dahiku yang mulai dingin. daunan berhamburan menyeruakkan aroma lengang yang kau tanam dalam jauh di pintu rumahmu. aku terusir sebelum mengetuk pintu. menunggui matamu lelah terpejam dan menyeret langkah ke pintu, aku terlalu penat. kantuk menyergapku, dan halaman rumah ini sekedar sekat ruang buatku.

…..


sepi yang tak pernah pulang

April 28, 2007

tiap jengkal ruas jalanan kota ini adalah celah untuknya menyembunyikan muka.  sebab ia telah menghapuskan seluruh tempat dari peta perjalanannya. setelah dalam hitungan tahun tersaruk-saruk batuan dan debu jalanan yang menimpuki pori-pori tubuhnya.

pulang…rumah…adalah tempat yang tak pernah diberi ruang bahkan dalam keinginan. ketika kesendirian telah melepasnya, maka tak akan ada bingar yang mampu menjeratnya kembali. karena kebebasan tak pernah diikat dengan sepi tapi bingar yang hangat.

entah apa yang menghidupi kekukuhan egonya, bertahan dengan ceracah perih. hidup semakin rapuh dan senyuman cuma tercipta dengan lamunan. tapi ada sebuah kebusukan besar. semua manusia menyimpannya, kecuali yang mengingkari kemanusiaannya dengan mengenakan jubah malaikat sekedar menambal nganga borok di lekukan kulit. diapun menyimpan kebusukan itu, terlebih karena dia jujur.

carut-marut kota, kelokan gang-gang kecil, parit di tiap halaman rumah, ia begitu mengenalnya. layaknya keriput di kulit yang mengiyakan hitungan tahun, air mata yang leleh entah karena debu jalanan atau tikaman perasaan yang belum tahu hendak dinamai apa.

dia berani menderita. aku juga belum berani melabelinya dengan kata. jagoan ataukah pecundang bodoh dia?


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.